(klasik audio) : TELINGA JEPANG LAIN DENGAN TELINGA INDONESIA ?


  Pada tanggai 7 Mei 1984 tepat pukul 12 siang, saya dijemput oleh T. Watanabe (Kepala Marketing Asia Tenggara Matsushita Group) di Royal Hotel. Acarahari itu adalab mengunjungi salah satu pabrik (show room) Technics yang berlokasi di Moriguchi, daerah pinggiran Osaka. Dengan berkendaraan taksi kami pergi ke sana. Kira-kira satu jam perjalanan, kami pun tiba di kompieks pabrik yang cukup luas dan terawat bersih. Oleh T. Watanabe, saya diperkenalkan dengan Ichiro Matsumoto (koordinator senior), Yasuharu Okamoto (Spesialis Hi-Fl) dan Michiharu Aioi (Spesialis Marketing). Seteiah itu kamipun dipersilahkan masuk ke dalam ruang pertemuan yangmerangkap ruang peragaan.


SeJarah Linear Phase

Kami berlima duduk mengitari meja besar yang ada di ruang pertemuan, kami bersepakat pada pertemuan ini untuk membicarakan masalah karakteristik produk hi-fi Jepang yang harus disesuaikan dengan citra telinga orang Indonesia.Sebagai pembuka pertemuan, Yasuharu Okamoto pertama-tama menjelaskan tentang sejarah speaker Linear Phase. Menurutnya, Technics adalah pencetus pertama ide pembuatan speaker Linear Phase di tahun 1975 dengan produk SB-7000 dan SB-6000  yang nyatanya mendapat pujian dari berbagai kalangan audiophile.  Sukses ini langsung ditiru oleh banyak produsen speaker dengan sebutan Accurate Phase, Precission Phase, Accurate Time Domain dan sebagainya. Berbeda dari speaker konvensional yang posisi speakemya diletakkan asal jadi (gambar 1A), maka speaker Linear Phase (gambar 1 B) memiliki perletakan speaker yang lebih teratur di mana pusat akustik berada pada satu bidang vertikal. Dalam teorinya perletakan demikian memberikan distribusi fasa (phase) yang lebih sinkron antara woofer,  mid dan tweeter.


Tetapi kemudian terlihat bahwa membrane getar yang berbentuk kerucut (konus)  masih merupakan pembatas pencapaian Linear Phase yang murni. Daerah tepi kerucut yang lebih menjorok ke depan dari daerah tengahnya masih merupakan faktor pembangkit beda fasa, di samping itu bentuk karton kerucut itu sendiri memiliki nodal (daerah mati) yang tidak teratur sehingga merusak fasa frekuensi tengah. Sebagai langkah perbaikan Linear Phase diciptakanlah speaker Honeycomb yang pertama di tahun 1979 (gambar 1 C), sedang yang disebut  Honeycomb adalah membrane datar yang terbuat dari lembaran plastik (pvc) berpola sarang lebah. Bentuk sarang lebah memiliki struktur yang tegar, mempunyai nodal yang teratur (berbentuk lingkaran), bebas anti fasa. Speaker seri Honeycomb seperti SB-M 1, SB-M3 dan SBM5 memiliki driver woofer, midrange dan tweeter yang berpermukaan datar. Dengan membrane honeycomb  diperoleh tiga segi keuntungan: Pertama, karena tidak ada efek rongga maka  tanggapan frekuensi lebih flat (datar), lihat gambar 2. Kedua, penyanggah Nodal yang dipakai oleh speaker honeycomb mampu menggerakkan membrane secara piston murni yang berdistorsi sangat kecil, lihat gambar.
3. Ketiga, bentuk membrane woofer, midrange dan tweeter yang datar itu sendiri  sudah merupakan pusat akustik Linear Phase sehingga tidak memerlukan lagi model kotak speaker bertingkat.
Perkembangan teknologi berjalan terns, pada beberapa hal, sistem honeycomb  dengan perletakan driver yang terpisah masih dirasa kurang balk, sebab ketepatan fasa honeycomb hanya terjadi untuk pendengar yang berada di tengah dengan ambang telinga sebatas kotak speaker. Sedang bagi mereka yang berada di luar ambang itu,  efek Linear Phase tidak terasa. Sebagai perkembangan terakhir, lahirlah speaker Coaxial Honey-comb yang merupakan perpaduan antara speaker Honeycomb dan speaker Coaxial (gambar 1 D). Tweeter coaxial yang letaknya konsentrik (Satu pusat) dengan woofer membuat efek Linear phase tetap berlaku bagi segala posisi, apakah dari atas, bawah, samping kiri / kanan.




Lain Bangsa, Lain Telinga ?

Setelah Y. Okamoto selesai menerangkan perkembangan teknik speaker Linear Phase  maka kini tiba giliran tanya jawab perihal speaker yang cocok bagi orang Indonesia. Dari semula Y. Okamoto dan Michiharu Aioi beranggapan bahwa speaker yang baik adalah speaker yang memiliki tanggapan frekeunsi datar (flat) mulai dari 30 Hz sampai 20 KHz.  "Bukan orang Jepang saja, orang Amerika juga menyukai yang flatl" tambah Y. Okamoto serius.  Tetapi kemudian saya bantah pernyataan itu. Menurut saya orang Indonesia lebih menyukai  bass dan treble daripada midrange, misalnya saja pada peralatan ekuallser graphic yang selalu saya temukan dalam bentuk cosinus (gunung kembar) di mana slider bass dan trebledipasang tinggi namun midrangenya dipasang rendah, "Ini fakta !" kata saya.
"Jika anda ingin lancar hendaknya produsen mengikuti kehendak konsumen dan bukan sebaliknya,"  tandas saya. Kemudian saya minta agar mereka merombak rangkaian cross over dare speaker  yang khusus diekspor ke Indonesia. Y. Okamoto setuju dan dia minta waktu 2 hari untuk  menyiapkannya.





UJI Coba


Dua hari kemudian saya datang kembali ke Moriguchi, tetapi kali ini disertai oleh rombongan dealer hi-fi Indonesia sebanyak 47 orang. Dalam sound room yang tertutup tirai disiapkan sebuah speaker yang dirancang untuk Indonesia dan empat speaker lainnyayang diberi kode: A, B, C, D dan E. Semua peserta dari Indonesia diminta mendengarkan musik yang berasal dari kaset produksi rekaman Indonesia pula. Dimainkan lagu keroncong "Selendang Sutera", lagu barat "Thriller" dan instrumentalia "Toccata".  Setiap pendengar diminta menulis pendapatnya pada secarik kertas, mana yang terbaik dari kelima speaker yang ada di balik tirai tersebut. Setelah jawaban terkumpul ternyata 80% menyatakan bahwa speaker "D" adalah yang terbaik ! Ketika tirai dibuka, Ichiro Matsumoto dan Yasuharu Okamoto tersenyum, ternyata speaker "D"  memang dirancang khusus untuk Indonesia dengan perubahan cross over, di mana bass (di bawah 125 Hz) dan treble (di atas 10 KHz) mengalami kenaikan 5 dB. Ternyata memang benar bahwa telinga Indonesia menyenangi bass dan treble lebih dari midrange.  Kini I. Matsumoto dan Y. Okamoto tidak bisa berdalih lain terkecuali mengikuti selera Indonesia.






Sumber :