RFID










A. TEKNOLOGI RFID

A.1. PRINSIP KERJA

Teknologi RFID didasarkan pada prinsip kerja gelombang elektromagnetik, dimana :

# Komponen utama dari RFID tag adalah chips dan tag-antena yang biasa       disebut dengan inlay, dimana chip berisi informasi dan   terhubung    
  dengan tag-antena.

# Informasi yang berada / tersimpan dalam chip ini akan terkirim   /    
  terbaca melalui gelombang elektromagnetik setelah tag-antena      
  mendapatkan / menerima pancaran gelombang elektromagnetik dari   reader   antena (interogator). RFID reader ini yang sekaligus 
  akan meneruskan informaasi pada server aplikasi.

Note :


Ada 2 jenis antenna dalam uraian ini, yaitu tag-antenna dan reader-antenna. Istilah ”antenna” dalam uraian ini akan mengacu pada reader-antenna. Untuk antenna dari tag akan dicantumkan secara spesifik ”tag-antenna”.





Figur 1. Skema Kerja Perangkat RFID

RFID transponder (Tag)




Figur 2. Blok diagram dari RFID transponder (Tag) secara umum.


# Pada gambar diagram blok dari sebuah transponder RFID dasar dan umum   

  menunjukkan blok fungsional utama. Tidak semua blok yang ditunjukkan  
  pada gambar akan selalu ada dalam setiap transponder, tergantung pada 
  jenis, penggunaannya, aplikasi, dan biaya.

# Analog Bagian Depan mengandung bagian frekuensi radio yang diperlukan 

  untuk mencocokkan sifat listrik dari perangkat ke sifat listrik antena 
  serta sirkuit yang digunakan untuk menghasilkan dan mengelola kekuatan 
  yang diperlukan untuk mengaktifkan perangkat.

# Bagian ini diikuti dengan pengkodean utama dan metode modulasi yang   

  umum digunakan oleh transponder dan dari struktur memori yang berbeda 
  untuk menyimpan data dan parameter konfigurasi serta kode yang 
  digunakan untuk menjamin integritas data digital.


RFID interrogator (Reader)


Figur 3. Block diagram darisebuah interrogator 


(Reader) secara umum


# Interogator memiliki dua fungsi dasar:untuk menghasilkan dan mengirimkan sinyal radio-frekuensi yang digunakan untuk memberi energi transponder dan untuk menerima dan mengubah (decode) sinyal yang dihasilkan oleh transponder. Selain itu, beberapa interogator juga daat mengirimkan perintah khusus untuk transponder.


# Interogator juga menangani komunikasi dua arah dengan host komputer yang digunakan untuk memproses informasi dari transponder dan untuk mengeluarkan perintah kepada interogator.

Perangkat RFID diatas akan berkomunikasi jika bekerja pada frekwensi yang sama. Sejalan dengan karakteristik frekwensi yang berbeda-beda dan kebutuhan / kondisi lapangan yang juga sangat bervariasi dalam penerapan RFID, maka saat ini telah berkembang solusi RFID untuk 4 macam frequency band :

# Low Frequency (LF) : 125 - 134 Khz
# High Frequency (HF) : 13.56 Mhz
# Ultra High Frequency (UHF) : 868 - 956 Mhz
# Microwave : 2.45 Ghz




Figur 4. Macam - macam Transponders (Tags)
A. Transponder RFID Low-frekuensi (LF) 
B. Transponder RFID High-frequency (HF) 
C. Transponder RFID Ultra-high-frequency (UHF) 
D. 802.11 (Wi-Fi) tag RFID aktif dirancang untuk beroperasi di band 2,4 - 2,4835 GHz atau 5,8 - 5,825 GHz 



Pemilihan frekuensi yang dipakai akan dipengaruhi hal-hal berikut ini :

1. Regulasi dari setiap negara (khususnya untuk sistim UHF dan Microwave).

2. Persyaratan Standarisasi yang harus dipenuhi untuk suatu aplikasi atau industri tertentu,contoh :

# Jika harus memenuhi standard ISO 15693; ISO 14443; ISO 18000-3, maka dipakai RFID HF system.

# Jika harus memenuhi standard EPC global Gen 2; ISO 18000-6 A, B, C; ISO 17363-67, maka dipakai RFID UHF system.

3. Aspek operasional dan aplikasi dalam penerapan RFID. Hal ini diuraikan lebih detail pada point ”C. Pemilihan Sistim dan Perangkat RFID ”.

A.2. PERANGKAT RFID

A.2.1. RFID Tag

RFID Tag terdiri dari 2 bagian, yaitu :

a. Inlay : # Inlay merupakan bagian inti / utama dari RFID tag, yang terdiri dari chip dimana informasi disimpan dan antena.

# Informasi yang disimpan terdiri dari :

- Infomasi permanen yang dicreate saat pembuatan / manufacturing dari inlay tersebut, yang berisi unik ID dari tag tersebut, sehingga didunia ini setiap tag yang ada memiliki ID yang berbeda dengan tag lainnya. Hal ini merupakan salah satu titik kuat solusi RFID. Informasi ini tidak dapat diubah oleh aplikasi atau memakai RFID reader

- Informasi non-permanen yang dapat di ”tulis” / ”write” oleh aplikasi dengan bantuan RFID reader saat pengoperasian dilapangan.


# Inlay ini berbentuk kecil, “halus” dan tentunya mudah rusak, sehingga tidak praktis untuk pemakaian dilapangan. Karena itu secara praktis RFID Tag yang digunakan dilapangan selalu dalam bentuk encapsulated / “terbungkus”.


Figur 5. Contoh Inlay RFID Tag 

b. Encapsulation / “Bungkus Inlay” :

# Karena bentuk Inlay yang “rapuh” maka secara praktis perlu dilakukan encapsulation / “pembungkusan” Inlay tersebut, sehingga sesuai dengan kondisi lapangan dimana RFID Tag dipakai.

# Pemakaian encapsulation ini memberikan keuntungan yang besar bagi solusi RFID karena material maupun bentuk encapsulation tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan yang cukup ekstrem, seperti temperature maupun kelembaban yang tinggi, lingkungan yang kotor / penuh debu, maupun kondisi operasional dengan banyak benturan fisik.

RFID Tag yang dipakai selalu sudah dalam bentuk yang encapsulated, dan secara umum berbentuk Label atau Tag :

# Label : Penentuan jenis material biasanya sesuai dengan label barcode yang sudah ada dan ukuran terkecil biasanya di sesuaikan dengan inlay dari RFID tag. Pengoperasiannya dapat dilakukan bersamaan dengan pencetakan label barcode.

# Tag : penentuan bentuk dan material dari tag encapsulation sangat bervariasi dan tergantung dari :

- Material dari item barang dimana Tag akan ditempatkan
- Kondisi lingkungan (temperature, kelembaban dll.)
- Cara pembacaan Tag (jarak, kecepatan, multi tags dll.)





Figur 6. Contoh Macam-macam RFID Tag Encapsulated) 

Pembedaan yang juga sering dipakai untuk RFID tag adalah apakah Tag tersebut memiliki sumber energi sendiri atau tidak,untuk membangkitkan gelombang elektromagnetik :

# Passive Tag

- Tidak memiliki sumber energi sendiri (tanpa Battery)
- Modulasi akan aktif setelah tag menerima gelombang elektromagnetik dari reader (Backscatter)
- Jarak baca : 10 cm -10 m (Tergantung dari type tag dan antenna dari reader)
- Harga Tag : < 0.7 US $ (tergantung bahan / material dari encapsulate yang di pakai)
- Praktis tanpa batasan untuk encapsulation medianya
- Bisa Read maupun Read/write
- Umur tag sekitar 100.000 x read / write)

# Active Tag

- Memiliki sumber energi sendiri (battery)
- Modulasi aktif langsung dari tag sendiri
- Jarak baca : 0 - 1 Km
- Harga Tag : > 15 US $ (tergantung bahan / material dari encapsulate yang di pakai dan spek dari tag)
- Variasi encapsulation media terbatas (Karena adanya unsur dari battery )
- Bisa Read, maupun read/write
- Umur tag dipengaruhi umur battery


A.2.2. RFID Reader :

Berdasar mobilitasnya RFID Reader dibedakan menjadi :

# Mobile RFID Reader / Terminal

- Dipakai pada aplikasi dimana tidak ditetap- kan adanya “Fixed Reading Gate”. Dalam hal ini users yang akan membawa Reader menghampiri items / tags.
- RFID reader ada 2 model : Internal (Sudah terintegrasi dengan Mobile terminal) dan external (Dalam bentuk CF card, SD card dan Bluetooth koneksi ).



Figur 7. Mobile RFID Reader 


# Vehicle Mounted RFID Reader

- Reader disini akan dipasangkan pada kendaraan / forklift yang dipakai untuk kegiatan peletakkan / put-away maupun
pengambilan / picking dari pallet atau barang yang telah dilekatkan RFID tag.
- Sama dengan diatas, dimana tidak ada “Fixed Reading Gate” sehingga users bersama kendaraannya / forklift yang akan membawa Reader menghampiri items / tags.



Figur 8. Vehicle Mounted RFID Reader 


# Fixed RFID Reader

- Dipakai untuk aplikasi yang menerapkan “Fixed Reading Gate”. Dalam hal ini item secara fisik akan di bawa melalui / ke dalam area baca dari reader yang bersifat stasioner, di sini secara prinsip berlaku “item menghampiri reader”.

Contoh :

aplikasi Gate atau access control, konveyor dll.

- Fixed Reader ada 2 model : Dengan antenna yang sudah terintegrate dan External Antena (dengan jumlah port antena : max 8 port).

Perangkat RFID reader yang ada di pasaran sudah terintegrasi dengan interface yang cukup lengkap seperti :
- RS-232 : koneksi ke alat kontroler, PLC dan display digital.
- Ethernet port & Wifi 802.11 a/b/g : koneksi LAN ke jaringan komputer
- Analog I/O (Input, Output) : koneksi sensor gerak pada konveyor, akses kontrol, Alarm, Lampu Indikator
- Port Antennas : jika di butuhkan lebih 1 antena dari setiap RFID reader, biasanya di pakai pada jenis aplikasi gate control
- Bluetooth : sebagai koneksi RFID reader dengan mobile device/PDA.

Dengan relatif lengkapnya interface yang tersedia, penerapan solusi RFID menjadi lebih mudah, praktis dan bahkan dapat dilakukan dengan fully-automated dimana tidak diperlukan lagi interaksi dengan manusia (Fully unattended).



Figur 9. Fixed RFID Reader 


A.2.3. Antena :

Antena adalah unsur yang penting untuk menentukan jarak baca antara Reader dengan RFID tag dan juga seberapa luas area pembacaan, karena itu ada beberapa satuan antenna yang perlu di perhatikan :
Penguatan Antena (Gain antenna biasanya dalam dBi Isotropic decibel), Polarisasi gelombang (circularly atau Linearly),
Bentuk antenna (Direct atau Omni).
Dilihat dari kebutuhan pengoperasian maka antenna dapat di kategorikan dalam dua model koneksi :

# Integrated antenna :

Di butuhkan jika cara pembacaan pada satu posisi saja (Karena biasanya dalam satu reader hanya 1 koneksi antena ), jarak (< 50 Cm) dan luas area pembacaan sangat terbatas (< 1 M2) seperti :
pada mobile terminal (Aplikasi : Stock control, inventory , Inspeksi / kunjungan pelanggan) dan Fixed reader yang integrated antenna (Aplikasi : Konveyor,forklift)

# External antenna :

Dibutuhkan jika cara pembacaan lebih dari 1 posisi dan luas area pembacaan > 1m2 (antenna akan terhubung ke Fixed Reader dengan port antenna max 8 port).
Dalam pemakaian di lapangan untuk menentukan dan membatasi luas area pembacaan tentunya ada beberapa hal yang harus di perhatikan :
- Pemilihan type Antenna
- Memastikan bahwa RFID tag yang sama tidak terbaca oleh antenna di jalur yang lain (contoh : Antena di Gate 1 tidak boleh membaca RFID Tag yang melewati antenna Gate 2, karena bisa terjadi pembacaan duplikasi RFID)
- Tidak adanya gangguan frekuensi dari alat radio yang lain, begitu sebaliknya.
- Penempatan antena dan setup power dari antena
- Biasanya di perlukan unsur engineering contoh : Pembatas dengan jaring kawat, Mendisain jalur khusus )



Figur 10. Contoh Penempatan Antenna 


B. KEUNTUNGAN RFID

RFID memiliki banyak kekuatan dan keunggulan yang sangat dibutuhkan untuk menunjang aplikasi operasional pelanggan,
bahkan yang membuka peluang penerapan RFID praktis di hampir semua aplikasi dan industri.

Aspek Tag :

1. Tag Uniqueness / Unique ID :
Setiap Tag memiliki ID yang unik dan berbeda secara world-wide, tanpa tergantung manufacturernya. Hal ini
terjadi karena adanya konsensus penomoran ID antara manufacturers sedunia. Dengan mendata tags yang dipakai pada database aplikasi, maka dapat dengan mudah dan effektif ditingkatkan aspek pengamanan dalam pembacaan (Secured / Selective Reading)

2. Read / Write Capability :
Dengan kemampuan read / write ini maka informasi pada tag dapat diubah-ubah oleh aplikasi melalui RFID reader.
Hal ini dimungkinkan karena tags memiliki memory, sehingga secara prinsip informasi pada Tag bersifat Portable Dynamic Data. Kapasitas data pada tags bervariasi dari 128 sampai mencapai 1024 Bits.

3. Operation in Harsh Environment :
Dengan pemilihan material maupun bentuk encapsulation yang sesuai dengan kondisi operasional di lapangan, maka
pemakaian / pemasangan RFID Tag dimungkinkan untuk kondisi extreme / harsh environment, contohnya : temperatur atau tekanan yang sangat tinggi.

4. Flexibility dalam Pemasangan :
Sejalan dengan point 3 diatas, maka dengan encapsulation yang sesuai RFID tag dapat dipasang secara flexible dan bervariasi pada item, contohnya : tag yang dibenamkan pada ban traktor, tag yang di clamped pada body mobil dll.

5. Reusable :
RFID tag memiliki life-time yang relatif lama dan dapat dipindah - pindah atau dipakai kembali untuk item lain (Kecuali jika hal ini memang sengaja dihindari, sehingga tag tidak dapat dilepas tanpa menjadi rusak). Pemakaian
kembali tags tersebut akan meningkatkan cost efficiency.

Aspek Pembacaan :

6. Accuracy :
Karena pembacaan dilakukan secara device-reading dan bukan oleh indera manusia, maka tingkat akurasinya menjadi sangat tinggi.

7. Bisa dilakukan secara Un-attended / automated :
Cukup banyak penerapan RFID dimana pembacaannya dilakukan
secara otomatis tanpa intervensi manusia, contohnya :
aplikasi konveyor.
Hal ini dimungkinkan karena RFID reader bisa langsung mendeteksi keberadaan tag dalam area bacanya.

8. Tidak Perlu Line-of-Sight :
Karena prinsip kerjanya bersifat elektromagnetik, dan bukan optikal, maka RFID Reader dapat membaca tag walaupun tag tersebut tidak terlihat atau “tersembunyi”.
Contoh : RFID Reader dapat membaca semua tag pada item yang berada dalam suatu peti tertutup.

9. Pembacaan yang Cepat :
Kecepatan pembacaan juga relative tinggi karena kemampuan membaca sekaligus informasi dari semua tags yang berada dalam area bacanya (Terasa sebagai simultaneous multi tags reading).

10. Aman :
Tag bisa di berikan password sehingga meningkatkan faktor keamanan dimana data yang berada di tag tidak bisa dibaca
oleh setiap reader jika tidak sesuai passwordnya. Tag juga bisa di matikan (tidak bisa dipakai lagi) dengan feature Killing Tag.

Kecuali mengenai akurasi dan pembacaan secara unattended, keunggulan yang diuraikan diatas sekaligus menjadi pembeda
dengan solusi Barcode yang selama ini sudah umum diterapkan.

C. PEMILIHAN SISTIM DAN PERANGKAT RFID

Dalam pemilihan Sistim dan Perangkat RFID ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, seperti dibawah ini :

C.1.1. Material dari Item

”Item” yang dimaksud disini adalah barang / produk dimana RFID tag dipasangkan (attached). Material dari item tersebut dapat cukup berpengaruh terhadap modulasi gelombang elektromagnetik antara tag dengan reader. Karena itu jenis material dari item akan berpengaruh pada pemilihan jenis RFID
tag maupun terhadap pemilihan frekuensi dari sistim RFID yang akan diterapkan.

Karakteristik umum dari beberapa material dapat diuraikan sebagai berikut :

# Material item Kertas, Kayu & Plastik :
tidak banyak mempengaruhi odulasi gelombang, sehingga tidak menimbulkan kendala dalam proses pembacaan dan penulisan tag. Dalam hal ini pemilihan RFID tag relatif mudah.

# Material item yang bersifat cair atau banyak mengandung cairan (termasuk orang, binatang): Akan terjadi penyerapan gelombang yang mengurangi ”power effektif” dari modulasi gelombang.

# Material item yang bersifat logam :
akan terjadi pemantulan gelombang (”multipath of wave”) yang akan mempersulit pembacaan dan penulisan tag.

Kesulitan pada material cair dan logam lebih terasa bila frekuensi yang dipakai adalah UHF (868 - 956 MHz)dibandingkan dengan pemakaian frekuensi LF atau HF. Walaupun demikian, saat ini kesulitan tersebut sudah dapat teratasi dengan telah dikembangkannya jenis RFID Tag dengan teknik modulasi khusus untuk material tersebut di frekuensi UHF.

C.1.2. Read Only atau Read/Write

Tag yang di gunakan apakah hanya sebagai :

# Read Only : yang dipakai hanya data unique Tag ID nya saja, sedangkan data variablenya terdapat dalam server aplikasi. Dalam kasus ini berarti setiap perubahan status dari Tag
harus tercatat dalam database server. Tag Jenis ini tidak mempunyai kemampuan menulis data.

# Read/Write: selain data unique Tag ID, juga akan disimpan dalam memory tag, data status / variabel yang ditulis oleh RFID reader. Data variabel ini umumnya berisi data atau status operasional dari item dimana tag tersebut terpasang, sehingga tag secara prinsip membawa ”portable Dynamic Data”.
Untuk jenis Read / Write, perlu diketahui bahwa jarak effektif untuk penulisan adalah sekitar 30% lebih pendek dari jarak pembacaan. Karena itu jarak antara reader dan tag harus
dikalkulasikan berdasar jarak penulisan.

C.1.3. Kondisi dan Kebutuhan Operasional

Kondisi dan kebutuhan operasional dalam penerapan suatu aplikasi RFID sangat bervariasi, bahkan pada beberapa aplikasi dapat dikategorikan sebagai extreem - atau Harsh-environment.
Kondisi lapangan yang secara umum perlu diperhatikan antara lain :

# Kondisi udara, seperti temperatur, kelembaban, tekanan udara, polusi / debu

# Proses fisik yang dialami item dimana tag terpasang,

contoh :

- Car body painting (Tag terpasang pada body yang sedang dicat / dicelup cat).
- Tire Manufacturing (Tag ditanam pada ban / tire yang sedang dalam proses manufacturing)

# Rough Handling : pada beberapa aplikasi terjadi operational handling yang tergolong ”kasar”, sehingga tags yang dipakai juga harus mampu tahan terhadap handling tersebut.

Contoh : Penerapan RFID pada container tracking. Handling dari container di pelabuhan-pelabuhan menuntut daya tahan
tags terhadap benturan fisik ataupun bentuk rough-handling lainnya.

Aspek operasional lain yang juga sering ditemui adalah apakah tag akan digunakan / re-use untuk item lainnya, atau malah tidak boleh dipindah sehingga harus menjadi rusak jika dicoba dipindah.

Seperti yang telah diuraikan pada point ”A.2.1. RFID tags”, jawaban untuk kebutuhan diatas terletak pada pemilihan material dan design dari tag encapsulationnya.

C.2. Aspek RFID Reader dan Interface / Connectivity

C.2.1. Alur Aktifitas Operasional :

Alur aktifitas operasional dengan penerapan RFID system harus didefinisikan dan dituangkan dalam standard Operating Procedures (SOP) yang jelas. Disini sekaligus ditentukan :

A. Reading Points

Dititik mana saja dalam alur aktifitas operasional akan dilakukan pembacaan tags

B. Reading Characteristics

Karakteristik / prinsip Pembacaan disetiap titik tersebut :

# Fixed Reading :

Dalam hal ini sudah di jelaskan pada point A.2.2. dengan materi ”Fixed RFID Reader”. Penerapan fixed reading umumnya dilengkapi juga dengan integrasi engineering, misalnya dengan sistim portal, PLC, Alarm, lampu indikator dll. Hal ini dilakukan sesuai SOP yang berlaku.

Secara umum perangkat RFID yang dibutuhkan adalah :
- RFID Fixed Reader
- RFID Antennas, termasuk port untuk antenna tambahan
- Extra I/O control untuk integrasi engineering dengan peralatan lain
- Interface untuk koneksi jaringan dengan back-end system

# Mobile Reading :

Dalam hal ini (mobile) RFID reader akan dibawa oleh users mendekati items / tags yang akan dibaca / ditulis. Disini secara prinsip berlaku ”Reader menghampiri items”.

Pada implementasi RFID system, pelanggan dapatsekaligus menerapkan kedua karakteristik tersebut diatas dalam pelaksanaan alur aktifitas operasionalnya. Misalnya untuk put-away dan picking di lokasi rak diterapkan mobil e-reading, sedang untuk ship-out diarea pintu keluar diterapkan fixed-reading.



Figure 11. Fixed-reading (A) dan Mobile-reading (B) 


# Reading Requirements :

Kebutuhan khusus yang berkaitan dengan pembacaan tags

- Jarak baca :
Tipikal jarak baca untuk passive tag terbagi mejadi dua dilihat dari operasi di lapangan :
Mobile Reader : 0 - 30 Cm
Fixed Reader : 0 - 10 M
Karena banyaknya variable yang mempengaruhi jarak baca, Khusus untuk fixed reading gate maka biasanya dilakukan Site
Survey RFID terlebih dahulu sebelum implementasi.
Beberapa Komponen yang mempengaruhi jarak baca, seperti :
Type dan ukuran tag, Media dari Produk, Ukuran, Gain ; penempatan dari Antena Reader, Read/write, security, environment, dan pembacaan untuk Multi Tag.

- Kecepatan Pembacaan dan Multi-Tags reading Jika dibutuhkan tingkat kecepatan pembacaan yang tinggi dan / atau pembacaan banyak tags secara “simultan”, maka sebaiknya dipilih sistim RFID berbasis UHF atau Microwave.

RFID Reader UHF dan microwave mempunyai kemampuan “Multi-tags reading” serta Kecepatan baca sampai 300 tags perdetik, yang tidak dimiliki sistim RFID berbasis LF dan HF. Keunggulan ini mampu meningkatkan effisiensi dan efektifitas kegiatan Supply Chain (Logistic; distribution, Warehousing) secara signifikan.

Karena itu cukup banyak implementasi sistim RFID UHF untuk aplikasi Supply Chain, dan bahkan telah dibakukan standarisasi sistim RFID UHF di area ini oleh EPC Global, sebagai institusi internasional yang memfokuskan diri pada standarisasi sistim RFID.

C.2.2. Interface :

Untuk pemilihan model dan konfigurasi RFID reader secara lebih spesifik, perlu diketahui connectivity dan interface
yang dibutuhkan. Pada point “A.2.2. RFID Reader” telah diuraikan bahwa peralatan RFID reader saat ini sudah memiliki interface yang relative lengkap untuk menjawab kebutuhan tersebut, seperti RS-232, Ethernet port (Wifi 802.11 a/b/g), Analog I/O, Antennas port, Bluetooth dll. Pelanggan cukup memastikan bahwa interface yang dibutuhkan tersedia pada
reader yang dipilih.

C.3. Aspek Aplikasi :

Kekuatan dari RFID sistem yang ada tidak lepas dari aspek aplikasi dalam mendukung operasi di lapangan yang lebih efisien dan efektif. Setiap produsen sistim RFID sudah menyediakan tool pendukung (dalam bentuk driver atau
library yang siap pakai, seperti dari Intermec dan Motorola) dalam pembuatan aplikasi yang terintegrasi dengan peralatan RFID. Bahkan sekarang dari aplikasi ERP yang ada (SAP, Oracle, Microsoft) sudah menyiapkan modul modul yang siap pakai untuk RFID.

Dari uraian diatas terlihat bahwa keberhasilan implementasi sistim RFID harus didukung kwalitas dan sinergi yang baik dari
aspek-aspek :
- Standard Operating Procedures (SOP)
- Aplikasi
- Perangkat RFID
- Provider Perangkat dan Jasa RFID

CONTOH PENERAPAN RFID

1. APLIKASI GATE / ACCESS CONTROL

Salah satu penerapan solusi RFID yang sangat popular adalah aplikasi Gate Control atau Access Control. Kendaraan yang
telah terdaftar bisa dengan cepat masuk ke kawasan karena portal akan secara otomatis membuka ketika kendaraan mendekati pintu masuk. Aplikasi ini juga sekalian dapat dipergunakan sebagai Time Attendance. Lihat gambar dibawah ini


Figur 12. Penempatan antenna Pada Gate (B) dan RFID Tag pada kaca bagian dalam Kendaraan (A) 



Figur 13. Konfigurasi Standard dengan 2 Antena untuk aplikasi Gate Control 







Table 1 : Konfigurasi Alat untuk Gate Aplikasi 


2. APLIKASI KONVEYOR / ASSEMBLY LINE

Aplikasi yang menggunakan ban berjalan biasanya adalah aplikasi WIP (Work In Process), dimana RFID Tag akan ditempelkan pada Box atau Case dari barang yang dimonitor statusnya. Dengan kemampuan Read / write dari RFID Tag, maka informasi di dalam RFID Tag bisa kita ganti - ganti sesuai dengan status terakhir dari proses.



Figur 14. Penempatan antena pada aplikasi Konveyor 




Figur 15. Konfigurasi Standard dengan 2 Antena untuk Aplikasi Konveyor




Table 2 : Konfigurasi Alat untuk Konveyor / Assembly Line 


REGULASI RFID

Setiap Negara mempunyai Standard Regulasi Frekuensi, yaitu pengaturan atau standarisasi dari band frekuensi dan power transmisi yang (boleh) dipakai untuk suatu teknologi / peralatan. Pengaturan ini dilakukan untuk menghindari atau mengurangi aspek interferensi maupun gangguan dari suatu peralatan pada peralatan lainnya, dengan obyektif untuk melindungi kepentingan umum atau pengguna peralatan berbasis Radio Frequency lainnya.

Regulasi Frekuensi ini terutama difokuskan pada band frekuensi yang secara teknis memang sensitif terhadap gangguan / interferensi tersebut, yaitu band UHF. Dengan teknologi
berbasis Radio Frequency, peralatan RFID juga menjadi obyek pengaturan tersebut. Seperti yang sudah di Jelaskan pada Topik
Teknologi RFID, ada 4 range frekuensi dari peralatan RFID :
- LF : 125 - 134 Khz
- HF : 13.56 Mhz
- UHF : 868 - 956 Mhz
- Microwave : 2.45 GHz

Standard Regulasi yang berlaku untuk peralatan RFID juga hanya untuk sistim UHF. Untuk peralatan RFID yang berbasis LF, HF dan Microwave tidak diberlakukan ketentuan khusus.








SUMBER :

# http://www.solper.com/
# http://www.cisco.com/
# RFID - Design Fundamentals and Applications
( Albert Lozano - Nieto ; CRC Press )